Jumat, 12 Desember 2014

Kebutuhan Kolaborasi Guru dan Orang Tua pada AUD



KEBUTUHAN KOLABORASI GURU DAN ORANG TUA PADA ANAK USIA DINI

A.    Kebutuhan Kolaborasi Secara Umum
            Teori kebutuhan Maslow dan Aktualisasi diri serta implikasi pada pendidikan. Teori kebutuhann Maslow termasuk konsep aktualisasi diri yang ia definisikan sebagai keinginan mewujudkan kemampuan diri atau keinginan untuk menjadi apapun yang seseorang mampu untuk mencapainya. Maslow menempatkan pejuangan untuk aktualisasi diri pada puncak kebutuhannya, hal ini berarti bahwa pencapaian dari kebutuhan paling penting ini bergantung pemenuhan seluruh kebutuhan lainnya, kesukaran untuk memenuhi kebutuhan ini diakui oleh Maslow.
            Adapun implikasi teori Maslow dalam pendidikan terletek pada hubungan antara kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh. Di sekolah apabila kebutuhan dasar siswa tidak terpenuhi, belajar akan terganggu, kebutuhan dasar paling penting adalah kebutuhan akan kasih sayang dan harga diri siswa yang tidak memiliki perasaan bahwa mereka dicintai dan mereka mampu, kecil kemungkinan memiliki motivasi belaja yang kuat untuk mencapai perkembangan ketingkat yang lebih tinggi.
            Di dalam UU nomor 2 tahun 1989 tentang system pendidikan, Pendidikan Nasional Pasal 10 ayat (4) dinyatakan bahwa pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga  dan yang memberikan keyakinan agama, nilai moral, nilai budaya, dan keterampilan. Dalam GBHN 1993 dinyatakan: pendidikan nasional di kembangkan secara terpadu dan serasi baik antar berbagai jalur, jenis, dan jenjang pendidikan maupun antara sector pendidikan dengan sector pembangunan lainnya serta antara daerah.
            Pendidkan adalah tanggung jawab bersama antara kelurgam masyarakat dan pemerintah. Sekolah hanyalah pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga sebab pendidikan yang pertama utama diperoleh dalam keluarga. Peralih bentuk pendidikan jalur luar sekolah kejalur pendidikan sekolah mmerlukan kerjasama antara orang tua dan sekolah.
B.     Jenis-jenis kebutuhan kolaborasi Guru dan Orang Tua
            Pada dasarnya banyak cara yang dapat di tempuh untuk menjalin karjasama antara keluarga  dengan sekolah antara lain:
Ø  Adanya kunjungan ke rumah anak didik
            Pelaksanaan kunjungan kerumah anak didik ini berdampak sangat positif diantaranya:
1.      Kunjungan melahirkan perasaan pada anak didika bahwa sekolahnya memperhatikan dan mengawasinya
2.       Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada si pendidik melihat sendiri dan mengobservasi langsung cara anak didika belajar, latar belakang hidupnya, dan tantang masalah-masalah yang dihadapinya dalam keluarga
3.      Pendidika berkesempatan untuk memberikan penerangan kepada orang tua anak didik tentang pendidikan yang baik, cara-cara menghadapi masalah-masalah yang sedang di alami anaknya
4.      Hubungan antara orang tua denga sekolah akan bertambah erat
5.      Kunjungan dapat memberikan motivasi kepada orang tua anak didik untuk lebuh terbuka dan dapat bekerjasama dalam upaya memajukan pendidika anaknya. 

Ø  Diundangnya orang tua ke sekolah
            Ada berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah yang dapat dimungkinkan untuk dihadiri oleh orang tua, maka akan positif sekali artinya bila orang tua di undang untuk datang kesekolah seperti class meeting, pameran dan lainnya.
Ø  Badan pembantu sekolah
            Badan pembentu sekolah adalah organisasi orang tua murid atau wali murid dan guru. Organisasi ini merupakan kerja sama yang paling terorganisasi antara sekolah atau guru dengan orang tua murid.
Ø  Mangadakan surat manyurat antara sekolah dan keluarga
            Surat menyurat ini diperlukan terutama pada waktu-waktu yang sangat diperlukan bagi perbaikan pendidikan anak didik, seperti sarat peringatan dari guru kepada orang tua agar anaknya lebih giat belajar.
Ø  Adanya daftar nilai dan raport
            Raport yang biasanya diberikan setiap catur wulan kepada para murid ini dapat di pakai sebagai penghubung antara sekolah dan orang tua.Sekolah dapat memberi surat peringatan atau meminta bantuan bila hasil raport anaknya kurang baik, atau sebaliknya jika anaknya memiliki keistimewaan dalam suatu mata pelajaran, agar anak dapat lebih giat mengembangkan bakatnya dan mampu mempertahukan apa yang sudah diraihnya.
            Ki Hajar Dewantara (1997) mengingatkan kita bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara guru, keluarga dan masyarakat.Hal ini senada oleh Regio Emelia yang menyatakan bahwa keterlibatan orang tua pada pendidikan anak usia dini merupakan sesuatu yang sangat penting, yang dikenal dengan pendekatan Regio Emelia (Edward, Gandani & Foremen, 1993).Oleh karena itu orang tua perlu dilibatkan sekolah TK dalam rangka mendidik anak usia dini.
        Adapun jenis-jenis kebutuhan kolaborasi antara orang tua dan guru adalah sebagai berikut:
1.      Adanya komunikasi langsung dua arah
2.      Adanya hubungan timbal balik
3.      Adanya rasa saling mempercayai antara orang tua dan guru
4.      Adanya partisipasi kedua belah pihak untuk tumbuh kembang anak
5.      Adanya inisiatif kedua belah pihak  
            Hubungan yang positif antara sekolah dan rumah merupakan kontribusi yang penting didalam prestasi anak disekolah, untuk membina hubungan yang positif bukan berarti menunggu adanya problem dari anak. Baik guru maupun orang tua dapat melangsungkan komunikasi langsung  dua arah , timbal balik dan saling mempercayai. Dalam hal ini, guru dapat saja menelepon orang tua, namun pada kelas yang besar, komunikas iyang memungkinkan adalah melalui surat. Inti utamanya dalah agar orang rua mengetahui bahwa sebagai guru kelas, guru bersedia dan dapat dihubungi oleh orang tua.
C.    Pengaruh Tidak Terpenuhinya Kebutuhan AUD

Perlunya keselarasan pendidikan dilembaga PAUD dan di rumah. Agar orang tua dan lembaga pendidikan tidak melakukan keselahan dalam mendidik anak maka harus terjalin keselarasan dan kerjasama yang baik antara kedua belah pihak. Orang tua mendidik anaknya di rumah, sedangkan pendidik melakukan tugasnya mendidik anak di lembaga pendidikan agar proses pendidikan sejalan dengan pendidikan di rumah maka perlu adanya kerjasama yang baik antara orang tua dengan lembaga pendidikan. Oleh karena itu mereka harus berada dalam suatu rel agar dapat seiring sejalan dan seirama dalam memperlakukan anak sehari-hari sesuai kesepakatan bersama. Apabila anak didik hanya oleh salah satu pihak saja maka kemungkinan proses pendidikan tidak akan berjalan dengan baik bahkan dapat mengganggu perkembangan anak.
Disebabkan oleh :
a.       Factor internal dan ekteren
b.      Factor jasmani
c.       Kesehatan seseorang barpengaruh terhadap belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu seperti cepat lelah kurang semangat.
d.      Cacat tubuh
e.       Factor psikologis, seperti besarnya pengaruh terhadap kemajuan belajar, perhatian, minat, bakat, dan factor kelelahan

D.    Permasalahan Dalam Penyelarasan antara Lembaga PAUD dan Keluarga
Menurut Dekker (1992) mengemukakan beberapa masalah yang terdapat dalam penyelarasan tersebut antara lain :
·         Ada jarak social antara rumah dan sekolah atau lembaga pendidikan
·         Perbedaan antara tujuan pendidikan
·         Ada perasaan rendah  diri para kalangan orang tua yang diakibatkan keterbatasan dan pengalaman  ketidaksuksesan sekolah mereka di bandingkan para pendidik.
·         Munculnya kekhawatiran pada diri pendidik terhadap orang tua anak didik dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi
·         Orang tua merasa tidak adanya pertolongan dan kesempatan untuk berkontribusi dalam cara yang bermakna terhadap program.
·         Orang tua dan pendidik membawa tekanan mereke dalam hubungan tersebut.

Dukungan orang tua di rumah terhadap kegiatan pengembangan di lembaga PAUD
Bentuk-bentuk dukugan itu antara lain :

a.       Mengontrol waktu belajar anak daan cara belajar anak
b.      Upaya-upaya yang dapat di jadikan acuan saat mendampingi anak :
·         Ciptakan susasan dirumah yang mendukung anak untuk melakukan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang dilaksanakan di lembaga pendidikan.
·         Jadwalkan waktu belajar yang teratur
·         Hindarkan hal-hal yang dapat mengganggu anak balajar
·         Pastikan anak anda mengerjakan sendiri kegiatan/tugas dari lembaga pendidikan.
·         Berikan teladan yang baik.
·         Berikan pujian kepada anak atas usahanya untuk menyelesaikan kegiataannya , memantau perkembangan berbagai aspek perkembangan anak.





DAFTAR PUSTAKA
Nurhafiza.2011.MK Kolaborasi Orang Tua dan Pendidikan Anak Usia Dini.Padang.UNP
Suyanto,Slamet.2005.Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.Jakarta.Kemendiknas
Jaipul L. Roopnarine, James E. Jhonson. 2011.Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Berbagai Pedekatan.Prenada Media Grup: Jakarta
Akbar, Reni & Hawadi.2001.Psikologi Perkembangan Anak.Jakarta:Grassindo
Patmonodewo, Soemiarti . (2008) . Pendidikan Anak Prasekolah . Jakarta : Rineka Cipta
Hasbullah.2005.Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan.Jakarta.Rajawali Pers
Shochib.2010.Pola asuh orang tua dalam membantu anak mengembangkan disilin diri.Jakarta : Rineka Cipta
Harjaningrum, Tri Agnes. Perananan orang tua dan praktisi dalam  membantu tumbuh kembang analk berbakat melalui pemahaman teori dan trend pendidikan.Jakarta: Prenada media group.


Senin, 01 Desember 2014

Evaluasi




Pengertian Evaluasi
Evaluasi atau penilaian berarti tindakan untuk menentukan nilai sesuatu. Dalam arti luas evaluasi adalah suatu proses dalam merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.  Untuk lebih memahami apa  yang dimaksud dengan  evaluasi, maka dapat dikatakan bahwa :
1. Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Yang dimaksud dengan proses sistematis ialah kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan yang dilakukan pada permulaan, selama program berlangsung dan pada akhir program setelah program dianggap selesai.
2. Di dalam kegiatan evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut objek yang sedang dievaluasi. Dalam  hal ini berkaitan dengan perilaku, penampilan, hasil ulangan atau pekerjaan rumah, nilai semester dan sebagainya.
3. Dalam setiap kegiatan evaluasi, tidak lepas dari tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Hal ini karena setiap kegiatan penilaian memerlukan suatu criteria tertentu sebagai acuan dalam menentukan batas ketercapaian objek yang dinilai.
Berkaitan dengan bimbingan dan konseling, maka yang dimaksud dengan evaluasi bimbingan  dan konseling adalah  segala upaya, tindakan  atau proses untuk menentukan derajat kualitas  kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dengan mengacu pada criteria atau patokan-patokan tertentu sesuai dengan program bimbingan dan konseling (Juntika, 2005: 57)

            Tujuan Evaluasi
Tujuan Evaluasi dalam buku Evaluasi Kurikulum karangan Hamid Hasan, adalah sebagai berikut:
1. Menyediakan informasi mengenai pelaksanan pengembangan dan pelaksanaan kurikulum sebagai masukan bagi pengambil keputusan.
2. Menentukan tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu kurikulum serta faktor-faktor yang berkontribusi dalam suatu lingkungan tertentu.
3. Mengembangkan berbagai alternative pemecahan masalah yang dapat digunakan dalam upaya perbaikan kurikulum.
4. Memahami dan menjelaskan karateristik suatu kurikulum dan pelaksanaan suatu kurikulum.

            Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Fungsi evaluasi diantaranya adalah sebagai berikut:
            Penilaian berfungsi selektif
            Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
1. Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
2. Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
3. Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
4. Untuk memilih siswa yang sudah berhak meniggalkan sekolah dan sebagainya.
            Penilaian berfungsi diagnostik
            Bila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Di samping itu, di ketahui pula sebab-musabab kelemahan itu. Sehinggga dengan melakukan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasi.
            Penilaian berfungsi sebagai penempatan
            Setiap siswa sejak lahir telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
            Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
            Dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana, dan sistem administrasi.
Fungsi Evaluasi
1. Fungsi formatif : fungsi evaluasi untuk memberikan informasi dan pertimbangan yang berkenaan dengan upaya memperbaiki suatu kurikulum.
2. Fungsi sumatif: fungsi fungsi kurikulum untuk memberi pertimbangan terhadap hasil pengembangan kurikulum.

A.J. Hariwung. 1989. Supervisi Pendidikan. Jakarta : Ditjen Pendidikan.
Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasan, Hamid. 2008. Evaluasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://animenekoi.blogspot.com/2012/06/pengertian-tujuan-dan-fungsi-evaluasi.html